Senin, 21 Januari 2013

PANCA YADNYA





            Upacara dalam ajaran Hindu merupakan bagian daripada yajna/ dibaca yadnya, bukan sebaliknya yadnya itu bagian dari upacara. Yadnya mempunyai arti yang sangat luas sekali. Menurut etimologi kata yadnya berasal dari kata yaj yang artinya memuja/memberi pengorbanan atau menjadikan suci. Kata ini juga diartikan bertindak sebagai perantara. Dalam Rg Weda VIII, 40. 4. artinya pengorbanan atau persembahan ( Pudja, 1985 : 104). Selama ini yadnya dipahami hanyalah sebatas piodalan/ menghaturkan Banten. Pandangan umat yang awam, setiap mendengar kata yajña, dalam benaknya selalu terbayang bahwa di tempat yajña itu terdapat berbagai jenis sajen, asap dupa mengepul, bau bunga dan kemenyan yang wangi semerbak, ada pujastawa sulinggih atau pemangku, ada suara kidung, tabuh gamelan yang meriah dan berbagai atraksi seni religius lainnya. Bayangan itu tidak salah. Namun rupanya keliru, bila yajña itu selalu diidentikkan dengan kegiatan upacara keagamaan. padahal Arti yadnya yang sebenarnya adalah pengorbanan/persembahan secara tulus. Segala yang dikorbankan atau dipersembahkan kepada Tuhan dengan penuh kesadaran, baik itu berupa pikiran, kata-kata dan prilaku yang tulus demi  kesejahtraan alam semesta disebut dengan yadnya.
            Inti dari yadnya adalah pesembahan dan pengorbanan. Sedangkan upacara adalah sebuah wujud bhakti manusia kepada Tuhan untuk  mendekatkan diri kepadaNya. Sarana upacara inilah disebut dengan upakara/Banten. Melalui sarana berupa upakara/banten ini umat Hindu menyampaikan bhaktinya kepada Tuhan. Banten yang dipersembahkan dimulai dari tingkatan yang terkecil sampai terbesar ( nista, madya, utama) dalam bahasa Bali disebut alit, madya dan agung. Sebenarnya tidak ada banten nista, sebab kata nista dalam bahasa Bali berkonotasi negatif, yang ada adalah alit. Kata alit artinya banten yang sederhana namun tidak mengurangi arti. Kemudian banten ini dipersembahkan ketika ada upacara/piodalan juga hari-hari raya menurut agama Hindu. Hari raya tersebut jatuh sesuai dengan wewaran, wuku dan sasih. Wewaran misalnya kajang keliwen, wuku misalnya bhudawage kelawu dan sasih misalnya Purnama kapat, kelima, kedasa dan sebagainya. Upacara Yadnya adalah merupakan langkah yang diyakini sebagai ajaran bhakti dalam agama Hindu. Dalam  (Atharvaveda Weda XII.1.1) Yadnya adalah salah satu penyangga bumi. Satyam brhad rtam ugra diksa tapo brahma yajnah prthivim dharayanti, sa no bhutasya bhavyasya patni, urum lokam prithivim nah krnotu Artinya Kebenaran, kejujuran yang agung, hukum-hukum alam yang tidak bisa diubah, pengabdian diri, tapa (pengekangan diri), pengetahuan persembahan (yajna ) yang menopang bumi. Bumi senantiasa melindungi kita. Semoga bumi menyediakan ruangan yang luas untuk kita. ( pudja,1985:31).
            Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda. Pemeliharaan kehidupan di dunia ini dapat berlangsung terus sepanjang Yadnya terus menerus dapat dilakukan oleh umat manusia. Demikian pula Yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta atau Bhuwana Agung sebagai diuraikan dalam kitab Yajur Weda. Disamping sebagai pusat terciptanya alam semesta Yadnya juga merupakan sumber berlangsungnya perputaran kehidupan yang dalam kitab Bhagawadgita disebut Cakra Yadnya. Kalau Cakra Yadnya ini tidak berputar maka kehidupan ini akan mengalami kehancuran.
            Dasar pelaksanaan upacara Yadnya adalah Tri Rna. Weda mengajarkan Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan Yadnya. Karena itu menurut ajaran Rna alam ini berhutang kepada Tuhan. Untuk melepaskan diri dari keterikatan akan hutang itu, umat Hindu melakukan yadnya salah satunya berupa upacara dengan memakai sarana upakara/banten. Dalam Lontar Agastya Parwa yadnya ini dibagi menjadi lima sebagai berikut:
a.       Dewa Yajña, yaitu mempersembahkan minyak, biji-bijian kepada Dewa Siwa, Agni di tempat pemujaan dewa.
b.      Rsi Yajña, yaitu menghormati pendeta dan membaca-baca kitab suci.
c.       Pitra Yajña, yaitu upacara kematian agar roh mencapai alam Siwa.
d.      Butha Yajña, yaitu mensejahterakan tumbuh-tumbuhan dan menyelenggarakan upacara tawur dan Panca Wali Krama.
e.      Manusa Yajña, yaitu memberi makanan kepada masyarakat.
               Dewa Yadnya dilakukan sebagai rasa bhakti umat kepada Tuhan dan melakukan Bhuta Yadnya untuk memelihara semua ciptaan Tuhan ini. Rasa berhutang kepada leluhur (Pitra) diwujudkan dengan berbhakti kepada leluhur dalam bentuk Pitra Yadnya dan memelihara keturunan, karena keturunan tersebut pada hakekatnya adalah leluhurlah yang menjelma. Memelihara keturunan dalam bentuk Manusa Yadnya pada hakekatnya juga melakukan Pitra Yadnya. Membayar jasa-jasa para Rsi yang menciptakan ajaran-ajaran moral spiritual dan ajaran-ajaran duniawi yang baik menuju kesejahteraan hidup jasmaniah disebut dengan Rsi yadnya ( Putra, 2005 : 2).                      Yadnya dalam Bhagawadgita diuraikan bahwa semua perbuatan yang berdasarkan dharma dan dilakukan dengan tulus ikhlas disebut yadnya. Belajar dan mengajar didasari oleh keikhlasan serta penuh pengabdian untuk memuja Tuhan, tergolong yajña. Memelihara alam lingkungan juga disebut yajña. Mengendalikan hawa nafsu dari panca indrya adalah yajña. Demikian pula membaca kitab suci Veda, sastra agama yang dilakukan dengan tekun dan ikhlas, adalah yajña. Saling memelihara, mengasihi sesama makhluk hidup juga disebut yajña. Menolong orang sakit mengentaskan kemiskinan, menghibur orang yang sedang ditimpa kesusahan adalah yajña. Jadi jelaslah, yajña itu bukanlah terbatas pada kegiatan upacara keagamaan saja. Upacara dan upakaranya (sesajen dan alat-alat upacara) merupakan bagian dari yajña.
               Di dalam Bhagavadgita III, 9 dan 12 diuraikan bahwa setiap melakukan pekerjaan hendaklah dilakukan sebagai yajña dan untuk yajña. Tuhan memelihara manusia dan segala ciptaanNya. Manusiapun memelihara hubungannya dengan Tuhan dalam bentuk bhakti. Saling memelihara ini adalah suatu kebaikan yang maha tinggi (Pendit, 1988 : 88)
               Selanjutnya sloka 12 dan 13 menyebutkan, para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu, manusia yang mendapatkan kebabagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan yajña pada hakekatnya pencuri. Dalam sloka selanjutnya, Sri Bhagawan Krishna menyebutkan bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa dari persembahan atau yajña (Pendit, 1988 : 90-91).Karena itu, sebelum menikmati makanan, kita harus mempersembahkan makanan itu kepada Tuhan terlebih dahulu. Makanan dipersembahkan itu menjadi prasadam yang oleh umat Hindu di Bali disebut lungsuran.
               Prasadam adalah Bahasa Sanskerta yang artinya anugrah Tuhan. Jadi makanan yang dinikmati setiap hari adalah pemberian Tuhan. Sedangkan kata lungsuran dalam bahasa Bali artinya hasil dari memohon kepada Tuhan. Bahan makanan yang dimakan oleh manusia berasal dari isi alam ini. Alampun merupakan ciptaan Tuhan. Karenanya manusiapun mendapatkan yajña dari alam, dan oleh karenanya pula manusia harus beryajña kepada alam. Inilah yang disebut dengan Cakra Yajña yaitu perputaran roda yajña yang sifatnya timbal balik.
               Dalam Mahabharata ada diceritakan tentang yajña agung di Kurukshetra. Diceritakan, sehabis perang Bharatayudha, Para Pandawa akan mengadakan upacara Aswameda Yajña dalam tingkatan yang utama. Tentang akan dilangsungkannya upacara besar itu segera menjadi bahan perbincangan hangat masyarakat Indraprasta maupun Astinapura. Demikianlah, para patih dan pejabat tinggi kerajaan yang lain asyik memperbincangkan keagungan upacara tersebut. Mereka amat bangga dan menyebutkan bahwa tidak akan ada upacara yajña yang seagung Aswameda yajña. Sedang bangga-bangganya mereka membahas yajña yang amat megah dan mewah itu. Tiba-tiba muncul seekor tikus. Tikus itu dengan nada sinis mengatakan bahwa Aswameda yajña yang akan diselenggarakan Pandawa itu tidak akan mampu menyaingi kehebatan yajña agung yang pernah disaksikan beberapa waktu yang silam, juga di Kurukshetra. Tikus yang nyeletuk di tengah-tengah perbincangan para patih adalah tikus unik, karena sebagian tubuhnya berwarna kuning keemasan.
               Mendengar penjelasan tikus yang berbulu emas itu, para Patih pandawa menjadi kaget. Betapa tidak. Selama ini mereka tidak pernah mendengar ada Upacara yajña di Kurukshetra, apalagi yajña yang maha agung yang mengalahkan kemegahan dan keagungan Aswameda Yajña yang diselenggarakan Pandawa. Dengan suara jelas dan tenang, tikus berbulu emas itu melanjutkan ceritanya. Para Patih dan masyarakat yang kebetulan ada disana mendengar cerita tikus itu dengan penuh perhatian dan terheran-heran.
               Tikus yang berbulu emas ltu menceritakan bahwa beberapa bulan yang lalu ada empat brahmana yang hidupnya sangat miskin harta benda. Keempat brahmana itu terdiri dari seorang ayah dan istrinya serta seorang anak dan menantunya. Keempat brahmana itu sepanjang hari hanya hidup dari mencari sisa-sisa panen padi atau jagung. Pagi-pagi buta, ketika fajar baru menyingsing diufuk timur, keempat brahmana itu sudah pergi mencari sejumput jagung. Mereka baru pulang ketika mentari sudah terbenam ke tempat peraduannya. Begitulah setiap hari, brahmana itu hanya mengandalkan sisa-sisa panen untuk mengisi perutnya yang ramping. Keempat brahmana itulah yang menggelar yajha agung di Kurukshetra dengan sarana sejumput tepung jagung.
               Hanya dengan sejumput tepung jagung sudah bisa menggelar yajña agung? Tanpa memberi kesempatan pendengarnya berkomentar, Tikus yang aneh bin ajaib itu menuturkan kisah brahmana tadi lebih lengkap.
               Pada suatu hari, keempat brahmana itu mencari sisa-sisa panen jagung yang baru kemarinnya dipetik oleh pemilik kebun. Petani jagung itu rupanya sangat cermat memanen jagungnya, sehingga hampir tidak ada jagung yang masih menempel di batangnya. Namun keempat brahmana itu akhirnya mendapat juga memungut sisa-sisa jagung yang sudah dipanen. Tentu saja jumlahnya amat sedikit. Setelah di tumbuk, jadilah sejumput tepung.
               Tepung itu kemudian dimasak jadi bubur lalu dibagi rata. Sebelum menikmati bubur jagung itu, tidak lupa pula mereka berdoa kepada. Tuhan Yang Maha Pemurah atas AnugrahNya. Begitu keempat brahmana tadi akan menikmati bubur, datanglah seorang brahmana tua, badannya kurus kering. hanya kulit yang membalut tulang. Brahmana itu mengaku sangat lapar dan menderita sakit. Mengaku sudah lama tidak makan, Brahmana itu memohon bantuan kepada keempat brahmana yang miskin tadi, sudi kiranya diberi makanan untuk mengobati sakitnya. Keempat Brahmana miskin itu dengan penuh keikhlasan dan penuh kasih, menyodorkan bubur jagung yang sebenarnya sudah siap dimakan. Begitu bubur jagung diserahkan, sebagian makanan itu jatuh dan kebetulan menimpa seekor tikus yang sedang berada dibawahnya, karena ketulusikhlasan yang demikian tinggi melatar belakangi persembahan itu maka tubuh tikus yang terkena tepung jagung tadi menjadi emas seketika. Setelah menikmati bubur jagung tersebut, maka brahmana itu sembuhlah dari penyakitnya dan selanjutnya menghilang. Kemudian terdengarlah suara gaib, bahwa berkat keagungan yajña itu, maka keempat brahmana miskin tadi mendapat tempat yang utama di sorga. Suara gaib itu tidak lain dari sabda Dewa Siva. Beliaulah yang menjelma menjadi brahmana sakit kelaparan untuk menguji keempat brahmana miskin tadi. Demikianlah ukuran yajña yang agung.
               Keagungan yajña dalam bentuk persembahan bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulusikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan yajña.
               Setelah tikus berkulit emas selesai menjelaskan yajña agung di Kurukshetra itu, barulah patih Panca Pandawa memahami betul arti keagungan suatu yajña. Letak keagungannya adalah pada keikhlasan. Bhagavadgita XVIII. 2-4 mengisyaratkan sebelum mencapai sanyasin atau lepas sekali dengan ikatan duniawi, maka terlebih dahulu hendaknya melakukan Tyaga. Tyaga adalah suatu usaha awal untuk membebaskan diri dari keterikatan duniawi guna menuju Sanyasin. Dalam sloka 5 bab. XVIII Bhagavadgita disebutkan, Tyaga itu memiliki tiga perwujudan yaitu yajña dana dan tapa. Pada sloka berikutnya dipertegas lagi bahwa pekerjaan melakukan yajña, dana dan tapa itu harus dilakukan tanpa mengikatkan diri dengan hasilnya. Melakukan yajña, dana dan tapa ini adalah suatu perbuatan yang dapat menyucikan orang-orang agar menjadi orang yang bijaksana.
               Tujuan yadnya pada dasarnya adalah untuk mencapai hidup bahagia dan kelepasan. Di dalam Manawa Dharmasastra VI, 35 disebutkan, bahwa pikiran (manas) baru dapat ditujukan kepada kelepasan setelah tiga utang terbayar (Pudja dan Sudharta, 1995 : 336). Mengapa manusia wajib membayar utang itu? Sebagaimana dikemukakan dalam Bhagavadgita III 10, Rna (utang) itu muncul justru karena Tuhan telah melakukan yajña. Sabda agung itu adalah sebagai berikut :
Pada zaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yajña dan bersabda
Dengan ini engkau akan berkembang biak dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu ( Pendit, 1988 : 89).
               Waktu pelaksanaan upacara Panca yajña di Bali dilakukan mulai dari sehari-hari sampai dengan jarak waktu cukup lama yaitu seratus tahun. Tingkatannya juga dari yang terkecil sampai terbesar.
               Sesungguhnya melaksanakan Panca Yajña itu tidaklah semata-mata berupa Upacara agama (ritual dan serimonial saja). Panca yajña dapat diwujudkan dengan perbuatan nyata yang langsung bermakna bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya : menyekolahkan anak dengan penuh dedikasi sehingga anak itu kelak menjadi manusia yang mandiri dan berkualitas. Selain itu, memelihara kelestarian lingkungan adalah sudah berarti melakukan Bhuta Yajña. Menghormati dan mendengarkan dengan baik nasehat-nasehat orang tua dan juga mengabdi kepada Beliau adalah tergolong Pitra Yajña.
               Jika demikian halnya maka setiap hari bahkan setiap saat, umat bisa melakukan yajña. Dan tentu tidak sedikit umat Hindu sudah berbuat demikian. Namun diantara sekian umat yang melakukan yajña, mungkin lebih sedikit yang sudah menyadari bahwa apa yang sudah diperbuat sesungguhnya sudah termasuk yajña.
               Kalau menyimak dan menghayati ajaran Hindu terutama ajaran Panca Yajña maka sudah sepatutnya melaksanakan inti pokok ajaran itu untuk melengkapi pelaksanaannya. Dalam melaksanakan Panca Yajña sering dianggap sebagai beban hidup. Selain itu ada pula umat yang melakukan Panca Yajña dengan maksud jorjoran, pamer kemewahan, ingin mendapatkan pujian dan maksud-maksud tertentu lainnya. Umat yang awam sering beranggapan, kalau belum mampu melaksanakan upacara besar akan mendapat sanksi moral dari Tuhan. Dari keyakinan yang keliru ini, timbullah pelaksanaan upacara yang dipaksa dengan mencari utang atau menjual harta warisan agar dapat menggelar upacara besar-besaran. Karena pelaksanaannya dipaksakan, maka sudah jelas, yajña itu dilakukan dengan tidak ikhlas. Bahkan kadang-kadang pelaksanaan yajña itu menimbulkan konflik, disharmoni, misalnya saling mencurigai sehingga timbul perpecahan dalam keluarga. Akibatnya? yajña yang menelan banyak materi dan energi itu gagal total. Sebab melakukan yajña sesungguhnva bertujuan menuntun umat manusia mewujudkan kehidupan yang harmoni dengan Tuhan, harmoni dengan sesama, dan harmoni dengan alam lingkungan.
               Di dalam yadnya unsur keharmonian dijaga karena  di dalamnya terdapat lima unsur penyucian berupa mantra, yantra, tantra, yajña dan yoga.
a.        Mantra yaitu doa-doa yang harus diucapkan oleh umat kebanyakan, Pinandita, dan pendeta sesuai dengan tingkatannya.
b.        Yantra yaitu alat atau simbul-simbul keagamaan yang diyakini mempunyai kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian.
c.         Tantra yaitu kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ditetapkan dalam kitab suci.
d.        Yajña yaitu pengabdian yang tulus ikhlas atas dasar kesadaran untuk dipersembahkan. Ketulusikhlasan ini akan dapat meningkatkan kesucian.
e.        Yoga artinya mengendalikan gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk dapat berhubungan dengan Tuhan. Pengendalian dalam yoga ada delapan tahapan yang disebut : Asta Yoga yang meliputi : Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Darana, Dhyana dan Samadhi.
               Sekali lagi perlu ditegaskan, upacara yajña yang besar seyogyanya mengandung lima unsur penyucian itu. Kesimpulannya tujuan yadnya adalah untuk melakukan penebusan utang atau Rna. Sedangkan penyucian dilakukan agar Atman kembali bersatu dengan Paramatma (Putra, 2005 : 17).
               Di dalam melakukan yadnya agar tercapai sesuai dengan tujuan yadnya itu sendiri hendaknya dilaksanakan dengan kualitas yang baik. Di dalam Bhagavadgita XVII, 11, 12 dan 13 diuraikan ada tiga tingkatan yajña dilihat dari segi kualitasnya. Tiga yajña itu yakni :
1.       Tamasika Yajña yaitu yajña yang dilakukan tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk sastranya, tanpa mantra, tanpa ada kidung suci, tanpa ada daksina, tanpa didasari oleh kepercayaan.
2.       Rajasika yajña vaitu yajña yang dilakukan dengan penuh harapan akan hasilnya dan dilakukan untuk pamer saja.
3.       Satwika yajña yaitu kebalikan dari Tamasika yajña dan Rajasika yajña bila didasarkan penjelasan Bhagavadgita tersebut diatas ( Maswinara, 1997 : 469-470).
               Dari uraian tersebut di atas ada tujuh syarat suatu yajña yang disebut Satwika yajña yaitu : sradha, lascarya, sastra, daksina, mantra, gita, annasewa, dan nasmita.
1.      Sradha artinya pelaksanaan yajña hendaknya dilakukan dengan keyakinan penuh bahwa apa yang digariskan oleh peraturan yang beryajña (yajña Vidhi) harus diyakini kebenarnya. Menegakkan keyakinan dalam melakukan upacara yajña adalah sesuatu yang mutlak. Yajña tidak akan membawa dampak spiritual kalu tidak dilatarbelakangi oleh suatu keyakinan yang mantap. Keyakinan itulah yang akan menyebabkan semua simbol dalam upakara menjadi bermakna rohani. Tanpa keyakinan yang mantap, lambang-lambang yang terdapat dalam upakara hanya akan berarti sebagai suatu pajangan keindahan material tanpa arti.
2.      Lascarya, artinya suatu yajña yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. orang yang ragu-ragu melaksanakanYajña tidak akan mendapat anugrah dari Sanghyang Widhi.
3.      Sastra, yaitu hukum yang berlaku dalam melaksanakan  yajña yang disebut Yajña Vidhi.Beryajña haruslah dilakukan berdasarkan petunjuk sastra. Misalnya menurut sastra upacara atma Wedana harus dilakukan setelah upacara Sawa Wedana dan terakhir barulah upacara Dewa Pitra  Pratista. Tapi kalau susunan upacaranya sengaja, dibalik, yaitu upacara Dewa Pitra Pratista dilakukan lebih dahulu, kemudian baru Sawa Wedana dan atma Wedana, ini berarti tidak sesuai dengan sastra.
           Kata sastra dalam hal ini adalah peraturan atau ketentuan hukum yang benar-benar bersumber dari kitab suci. Kedudukan hukum kitab suci Hindu disebutkan dalam Manawa Dharmasastra II,6 sebagai berikut:
Idanim dharma pramananyaha
Wedokhilo dharmamulam
smrti sila cacat widam
acharascai wasadhunam
atmanastuti sewa ca.

Artinya:
Seluruh b suci Veda merupakan sumber pertama dari dharma. Kemudian sumber dharma berikutnya adalah adat istiadat, lalu tingkah laku yang terpuji dari orang-orang budiman yang mendalami Veda juga kebiasaan orang-orang suci dan akhirnya kepuasan diri sendiri ( Pudja, 1995 : 62 ).
4.      Daksina, yaitu suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan benda atau uang yang dihaturkan secara ikhlas kepada pendeta yang memimpin upacara. Persembahan ini sangat penting dan bahkan merupakan salah satu unsur untuk suksesnya upacara.
5.      Mantra dan Gita sangat penting dalam upacara. Setiap upacara yang berkualitas haruslah ada mantra dan gita (lagu-lagu suci untuk pemujaan) yang diucapkan umat, pinandita dan pendeta sesuai dengan aturannya. Tentang mantra telah dijelaskan pada bagian depan tulisan ini.
6.         Annasewa, yaitu jamuan makan kepada tamu upacara (atiti yajña) sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun tentang jamuan ini tidak boleh dipaksakan. Pemberian makan pada para atiti yajña atau tamu yajña, adalah merupakan syarat yang penting dari suatu yajña yang baik. Dalam Manawa Dharmasastra disebutkan, memberi makan dan melayani tamu-tamu yajña adalah tergolong Manusa Yajña yang dalam Manawa Dharmasastra III, 70 dan 81 disebut Narayajña/Nara jnotithi pujanam, maksudnya melayani tamu dengan ramah tamah dan memberikan suguhan dengan ikhlas adalah tergolong Narayajña.
                        Kewajiban menjamu dalam kegiatan upacara agama Hindu harus disesuaikan dengan kemampuan. Tidak boleh menjamu secara berlebihan apalagi melampaui batas kemampuan sehingga harus mengambil utang. Yajña yang dilakukan dengan memaksakan kemampuan adalah yajña yang tergolong Rajasika Yajña.
7.      Nasmita, artinya bahwa suatu upacara agama hendaknya tidak dilangsungkan dengan tujuan untuk pamer kemewahan atau pamer kekayaan dengan maksud tamu dan tetangga berdecak kagum. Tetapi bukan berarti bagi yang mampu tidak boleh menampilkan kemewahan dan keindahan dalam pelaksanaan upacara, asalkan kemewahan dan keindahan yang dihadirkan itu tidak dilatarbelakangi untuk tujuan pamer apalagi dengan maksud menyaingi upacara yang pernah dilangsungkan oleh tetangga atau orang lain. Kemewahan dan keindahan hanya pantas dilangsungkan dengan tujuan mengagungkan nama Tuhan.
            Memang tidak usah ditutupi, bahwa pembobotan aktivitas kehidupan beragama Hindu di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya masih lebih menekankan aspek ritual dan serimonial. Adakalanya serimonial mengalahkan ritual. Upacara keagamaan sering dipakai arena unjuk eksistensi dengan merendahkan aspek atau unsur yang lain. Masih banyak upacara agama yang mengutamakan kemantapan ritual. Ada orang yang mendadak rajin ke pura kahyangan jagat karena baru membeli mobil mewah yang baru dengan pakaian yang serba mewah. Sedangkan untuk sembahyang di merajannya sendiri hampir tidak pernah. Atau kalaupun sembahyang, dilakukan dengan perasaan yang kurang mantap.
                        Ada upacara yang dihadirkan dengan menonjolkan atau sengaja memamerkan kemewahan agar tetangga menjadi terkagum-kagum. Ada upacara sengaja mengundang pejabat tinggi dari tingkat pusat sampai ke tingkat lokal. Waktu, tenaga dan dana tentu banyak dihabiskan untuk mengurusi kedatangan pejabat itu sedangkan kelancaran upacara menjadi terganggu.
                        Memang kehadiran pemimpin pemerintahan dan pendeta merupakan syarat penting dalam upacara. Tapi sekali lagi bukan untuk maksud pamer. Dalam Upanisad dinyatakan, pendeta dan tamu harus mendapat perlakuan yang istimewa karena mereka itu, adalah “perwujudan” dewa.
             Dalam Taiteaya Upanisad disebutkan Acharya deva bawa, Athiti deva bawa. Artinya : Pendeta bagaikan penjelmaan dewa (dalam yajña) tamupun ibarat penjelmaan dewa (dalam yajña). Menghadirkan pejabat sebagai seorang pemimpin bukan dimaksudkan untuk unjuk eksistensi, tetapi sebagai pengesahan suatu yajña yang baik atau Sattwika Yajña. Sebagaimana telah banyak disinggung, upacara yajña adalah suatu media untuk merealisasikan rasa dekat manusia dengan Tuhan, dengan sesama seperti keluarga dan masyarakat lingkungan, pendeta dan pemimpin. Upacara juga merupakan suatu visualisasi filosofi untuk mengenali isi alam dan menunjukkan kasih sayang manusia pada isi alam ciptaan Tuhan. Rasa dekat melalui pelayanan hanya dapat dilakukan apabila yang. empunya upacara tidak bersikap eksklusif. Sebab eksklusifisme dalam upacara keagamaan akan dapat merenggangkan rasa dekat dan keakraban. Karena itu sifat pamer dalam upacara harus dihindari. Sekali lagi ini bukan berarti manusia tidak boleh menampilkan sesuatu yang indah, megah atau mewah. Hal itu boleh saja dihadirkan asalkan sikap yang melatarbelakangi tidak bertujuan untuk eksklusifisme namun semata-mata untuk persembahan dan mengagungkan nama Tuhan.
Secara lebih rinci kegiatan upacara Yadnya di Bali meliputi lima bagian yang disebut panca yadnya selengkapnya sebagai berikut :

Dewa Yajña
               Umat Hindu melaksanakan upacara ini dengan menghaturkan canang dengan kelengkapannya sehari-hari tiap-tiap Kliwon (lima hari sekali), Kajeng Kliwon (15 hari sekali) tiap-tiap Purnama dan Tilem (satu bulan sekali), tiap-tiap Tumpek, Buda Kliwon, Buda Cemeng, Anggar Kasih, Buda Umanis, yang dilaksanakan sebulan sekali. Pelaksanaan upacara Dewa Yajña itu yakni berdasarkan perhitungan wuku, wewaran, dan sasih. Upacara Dewa Yajña dilakukan pula dalam bentuk upacara pujawali atau ngodalin di pura atau sanggah pemerajan. Upacara ngodalin itu didahului pula oleh upacara melaspas pura atau pelinggih bag yang baru membuat tempat suci itu. Ada juga upacara mendem pedagingan bagi yang pelinggihnya belum diisi pedagingan dan juga upacara menyusun pedagingan (menambah pedagingan pelinggih atau sanggah me­rajannya) bagi yang sudah mendem pedagingan lebih dan sepuluh tahun. Upacara Dewa Yajña ini dilaksanakan pula dalam bentuk merayakan suatu hari raya seperti melasti dalam rangka Tawur Kesanga, selain Galungan, Saraswati dan hari raya Hindu lainnya.

Pitra Yajña
               Upacara ini bertujuan untuk menghormati dan memuja leluhur. Kata pitra bersinonim dengan pita yang artinya ayah atau dalam pengertian yang lebih luas yaitu orang tua. Fungsi ayah atau bapa menurut Kakawin Nitisastra ada lima, yang disebut Pancawida yaitu :
a.       Matulung urip rikalaning baya, artinya : menolong tatkala menghadapi bahaya.
b.      Sang maweh binojana, artinya orang yang memberikan makan.
c.       Sang mengupadyaya, artinya orang yang memberikan  pendidikan dan ilmu pengetahuan.
d.      Sang menyangaskara, artinya orang yang menyucikan diri dengan upacara.
e.      Sang ametuwaken, artinya orang yang menyebabkan lahir.
b Sarasamuccaya menyebutkan ada tiga fungsi ayah yaitu :
a.      Annadatha yaitu orang yang memberikan makan.
b.     Pranadatha yakni orang yang memberi hidup atau jiwa.
c.      Sarira Krta artinya orang yang membangun dan membentuk badan jasmani.
Dalam b Taiterya Upanisad disebutkan sebagai berikut :
Pittri dewa bawa
Naitri dewa bawa

Artinya:
Ayah adalah perwujudan dewa (dalam keluarga).
Ibu adalah perwujudan dewa (dalam keluarga).
               Dari sloka itu dapat disimpulkan, betapa mulianya kedudukan orang tua dalam pandangan Hindu. Itulah sebabnya setiap manusia Hindu wajib menaruh hormat dan berbhakti kepada orangtuanya.
               Di India, scorang anak melakukan penghormatan kepada orang tuanya dengan berbhakti dan melakukan Pada Sewanam yaitu menyentuh kaki orang tuanya. Tradisi itu di India terpelihara sampai kini. Sayang sekali, tradisi sungkem ini tak terpelihara di kalangan umat Hindu di Bali.
               Di Bali hormat dan bakti kepada orangtua atau leluhur dilakukan dalam bentuk upacara setelah beliau meninggal. Penghormatan kepada orangtua atau leluhur lebih ditonjolkan dalam bentuk upacara yajña yang disebut Pitra Yajña. Yang tergolong upacara Pitra Yajña adalah upacara Ngaben atau Atiwa-tiwa (di Kalimantan disebut upacara Tiwah) yaitu upacara yang bertujuan melepaskan Sanghyang Atma yang menjadi jiwa orangtua dari ikatan Panca Maha Butha. Karena itu upacara Ngaben itu disebut pula Sawa Wedana.
               Menurut b Wrhraspati Tattwa, Atman yang telah lepas dari ikatan Panca Maha Butha masih dibelenggu oleh Suksma Sarira. Suksma sarira terdiri atas citta (budhi, manas dan ahamkara), indria atau panca indria, triguna, panca tan matra dan karma-wasana. Suksma sarira ini merupakan astralbody. Hal ini menyebabkan ada upacara Pitra Yajña tahap kedua yang disebut Atma Wedana yaitu upacara yang melepaskan Sanghyang Atma dari ikatan suksma sarira.
               Upacara Atma Wedana menurut lontar Siwa Tattwa Purana ada limajenis sesuai dengan tingkatan besar kecilnya upacara yaitu sebagai berikut : Ngangseng, nyekah, memukur, maligia dan terbesar adalah ngeluwer. Perbedaan upacara ini hanya dilihat dari besar dan kecilnya pelaksanaan upacara sedangkan makna filosofisnya sama. Setelah upacara Atma Wedana dilangsungkan upacara Dewa Pitra Pratista yaitu upacara menstanakan roh suci leluhur di Kemulan. Setelah upacara Ngaben Sanghyang Atma bernama Sang Pitra, sedangkan setelah upacara Atma Wedana, Sanghyang Atma bernama Dewa Pitra yaitu pitra yang telah mencapai alam dewa atau sidha dewata. Upacara Dewa Pitra Pratista dalam masyarakat disebut upacara Dewa Hyang atau nuntun ngelinggihang Dewa Hyang. Secara filosofis, upacara nuntun Dewa Hyang ini tergolong upacara Dewa Yajña. Begitu pula dalam bentuk upacara keagamaannya sudah digolongkan upacara Dewa Yajña. Dalam lontar Purwa Bumi Kemulan disebutkan upacara nuntun Dewa Hyang itu sama dengan ngodalin dewa (makadi ngodalin dewa). Demikian upacara Pitra Yajña lebih menonjolkan bentuk ritual dari pada yang lainnya.

Manusa Yajña
               Dalam rumusan kitab suci Veda dan sastra Hindu lainnya, Manusa Yajña atau Nara Yajña itu adalah memberi makan pada masyarakat (maweh apangan ring kraman) dan melayani tamu dalam upacara (athiti puja). Namun dalam penerapannya di Bali, upacara Manusa Yajña tergolong Sarira Samskara. Inti Sarira Samskara adalah peningkatan kualitas manusia. Manusa Yajña di Bali dilakukan sejak bayi masih berada dalam kandungan upacara pawiwahan atau upacara perkawinan. Upacara tersebut antara lain; upacara pagedong-gedongan (bayi dalam kandungan), upacara bayi lahir, upacara kapus pusar (putusnya tali pusar), upacara tutug kambuhan (42) hari, upacara nyambutin (105 hari), upacara ngotonin (210 hari), upacara ngeraja swala (upacara meningkat dewasa), upacara mepanden, atau. upacara potong gigi dan upacara perkawinan atau pawiwahan.

Rsi Yajña
               Menurut rumusan dalam b suci, Rsi Yajña itu adalah menghormati dan memuja rsi atau pendeta. Dalam kegiatan upacara, beberapa buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh Hindu di Bali menyebutkan upacara madiksa digolongkan ke dalam upacara Rsi Yajña. Kalau cocokkan dengan rincian upacara dalam b Yajña Widhi, upacara tersebut tergolong upacara Manusa Yajña karena meningkatkan status kesucian seseorang dari walaka menjadi sulinggih. Dalam praktik upacara yajña di Bali, yang digolongkan upacara Rsi Yajña adalah upacara Rsi Bojana yaitu upacara penghormatan kepada sulinggih atau pendeta dalam bentuk menyuguhkan makanan yang disajikan dengan sangat terhormpat. Dalam lontar Agastya Parwa disebutkan, Rsi Yajha ngaranya kapujan ring pandeta sang wruh ring kalingganing dadi wang.. Artinya Rsi Yajña adalah berbakti pada pendeta dan pada orang yang tahu hakikat diri menjadi manusia.
               Dengan demikian melayani pendeta sehari-hari maupun saat-saat beliau memimpin upacara tergolong Rsi Yajña. Mendalami b-b sastra apalagi b suci Veda adalah melanjutkan cita-cita semua rsi, wajarlah hal ini disebutkan Rsi Yajña.
               Demikian penerapan rumusan Panca Yajña yang dijabarkan oleh umat Hindu dalam praktik upacara agama Hindu. Pelaksanaan Panca Yajña yang terkecil yang dapat dilakukan setiap hari adalah melakukan Yajña Sesa setelah selesai masak. Habis masak makanan terlebih dahulu dipersembahkan kepada Tuhan. Sisa persembahan itulah yang makan. Makanan itu adalah makanan yang telah mendapat anugerah Tuhan. Karena itu makanan yang dimakan setelah dipersembahkan disebut prasadam. Prasadam dalam bahasa Sanskerta artinya anugerah.

Bhuta Yadnya

                Upacara ini lebih diarahkan pada tujuan untuk nyomia Butha Kala atau berbagai kekuatan negatif yang dipandang dapat mengganggu kehidupan manusia. Butha Yajña pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan Butha Kala menjadi Butha Hita seperti disebutkan dalam Sarasamuccaya 135. Butha Hita artinya menyejahterakan dan melestarikan alam lingkungan (Sarwaprani) ( Kadjeng dkk, 1994 : 111). Upacara Butha Yajña yang lebih cenderung untuk nyomia atau mendamaikan atau menetralisir kekuatan-kekuatan negatif agar tidak mengganggu kehidupan umat manusia dan bahkan diharapkan membantu umat manusia. Bentuk upacara Bhuta Yajña itu antara lain segehan,  sampai dengan tawur. Segehan terdiri dari lima belas jenis.  juga memiliki banyak jenis, dari  eka sata yang mengorbankan seekor ayam berbulu brumbun atau serba warna, sampai ada bernama Panca Kelud. Intinya adalah, ayam sebagai bahan dasar caru itu. Bila upacara Bhuta Yajña menggunakan kerbau, caru itu sudah bernama tawur. Jumlah kerbau yang digunakan tergantung besar kecilnya upacara, dari satu ekor sampai 26 bahkan lebih ekor.
               Pengertian Bhuta Yajña dalam bentuk upacara amat banyak macamnya. Kesemuanya itu lebih cenderung sebagai upacara nyomia atau mendamaikan atau mengubah fungsi dari negatif manjadi positif. Sedang arti sebenarnya Bhuta Yajña adalah memelihara kesejahteraan alam.
               Bhuta-Yadnya adalah suatu korban suci yang bertujuan untuk menyucikan tempat (alam beserta isinya), dan memelihara serta memberi penyupatan kepada para bhutakala dan makhluk-makhluk yang dianggap lebih rendah dari manusia. Dengan demikian penyucian itu mempunyai dua sasaran yaitu :
1.      Penyucian terhadap tempat (alam) dari gangguan dan pengaruh-pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh para bhuta-kala dan makhluk yang dianggap lebih rendah dari manusia seperti tersebut di atas.
2.      Penyucian terhadap Bhuta-Kala dan makhluk-makhluk itu, dengan maksud untuk menghilangkan sifat-sifat buruk yang ada padanya, sehingga sifat baik dan kekuatannya dapat berguna bagi kesejahteraan umat manusia dan (alam). Hendaknya disadari kehidupan ini memerlukan pula kekuatan-kekuatan dari mereka, misalnya untuk menjaga rumah, menjaga diri sendiri dan sebagainya.
               Pemeliharaan yang dimaksudkan disini adalah untuk menjaga agar mereka tetap bersifat baik serta berada atau bergerak menurut jalannya masing-masing, sehingga. tidak menimbulkan gangguan kepada alam dan isinya. Suatu yang kelihatannya agak berlawanan adalah pemeliharaan terhadap para. “binatang”. Seperti diketahui bahwa bentuk upakara Bhuta-yadnya di Bali khususnya, mempergunakan banyak jenis hewan. Makin tinggi tingkatan upakara itu, makin banyak pula hewan yang dipotong untuk yadnya tersebut. Sehingga sepintas lalu seolah-olah tidaklah ada unsur-unsur pemeliharaannya. Tetapi kalau diperhatikan lebih lanjut “Puja” dari “Pengelepas perani/patikewenang”, yang diucapkan pada waktu, upacara “mepepada” dan setiap akhir suatu yadnya, menunjukkan bahwa unsur pemeliharaan disini tidaklah bersifat nyata seperti memberi makan, mengobati, dan sebagainya, melainkan lebih bersifat abstrak/rohaniah yaitu meningkatkan hidup para binatang itu dari alam hewan ke alam manusia. Jadi lebih bersifat “penyupatan”, kepadanya. Dengan menjelmanya dia sebagai manusia kelak, agar dapat berbuat kebajikan, sehingga dia dapat mencapai kesempurnaan hidupnya (memperbaiki “karma”nya).
               Sebagai contoh dari “pengelepas perani” itu adalah sebagai berikut :
Ong indah ta  sang dwi pada, saking purwa desa sinangkan ta pamuliha  maring purwa-desa, menembah ta  maring Sang Hyang Iswara.
ONG SANG namah linggan ta. Wus samangkana pasangsarga  ling Sang Hyang Iswara, aywa ta  tan mangantitiakena katuturan ira Sang Hyang Dharma, tutur-tutur aywa lali, enget-enget aywa lupa, nahan teka ring dalem kepatian. Yan  dadi jadma dadi ya . wiku sakti”, saguna kayanta aturakena ring ulun apan ulun umantukena ri .
ONG SANG Sadya ya namah
Artinya  Ong perhatikanlah kau semuanya, ke arah timur tempat tujuanmu berpulang, menyembahlah engkau kepada Sanghyang Iswara,. Ong Sang aksaramu, setelah itu bersatulah engkau dengan Sanghyang Iswara, jangan sampai engkau tidak mengikuti semua ajaran Sanghyang Dharma, terus di ingat janganlah lupa, sampai di alamnya Tuhan, apabila nanti kau menjelma menjadi manusia, semoga engkau menjadi Wiku Sakti, segala kekayaan yang diperoleh kembalikanlah kepadaKu, sebab Aku  juga akan kembalikan lagi kepadamu. Semoga mendapatkan kebenaran dari Sanghyang Iswara.
               Demikian pula halnya dengan hewan yang berkaki empat, perginya ke Selatan. Untuk segala jenis ikan, pergi ke Utara segala yang berjalan dengan dada, pergi ke Barat; dan seterusnya termasuk jenis daun-daunan, pohon-pohonan pergi ke Tengah.
               Yang dimaksud dengan penyupatan dalam hal ini adalah untuk mengembalikan mereka ke tempat/kepada asalnya dan memberi peningkatan yang lebih sempurna kepadanya. Dibeberapa lontar seperti Widhi-sastra, Yama-tatwa, Lebur disebutkan bahwa salah satu yang menjadi Bhutakala, peri, jin, setan dan lain-lain, yang sejenis dengan itu adalah dewa-dewa atau roh-roh yang terkutuk karena dosa-dosanya/kesalahannya, serta diturunkan ke dunia untuk mencari “penyupatan”. Sebagai contoh misalnya adalah : terkutuknya Dewi Uma menjadi Durga Dewi, kemudian “disupat” oleh Sahadewa (dalam cerita Sudamala); terkutuknya roh Prabu Nahusa menjadi seekor naga yang berbisa, kemudian “disupat” oleh Sang Bima dan Prabu Yudistira (dalam cerita Wana-Parwa) dan lain-lainnya.https://docs.google.com/file/d/0B-Es3BOgFkLBeTlwcGd3YTlTTXc/edit
              

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar